We, certified nutritionist, love to share about nutrition and healthy lifestyle for healthier you. Cause sharing is caring.

Strategi Tangkal Tuberkulosis

Leave a comment

foto: corbisimages

foto: corbisimages

Apa yang kamu tahu tentang tuberkulosis? Penyakit saluran pernapasan yang penderitanya harus dikarantina agar bisa sembuh? Atau iklan layanan masyarakat yang bilang, “Waspadai bila batuk tak kunjung berhenti?” Tuberkulosis memang merupakan wabah yang belum berhasil ditaklukkan di Indonesia; penyakit ini adalah penyebab kematian prematur nomor dua di Indonesia berdasarkan Global Burden of Disease tahun 2010. Karena itu, di Hari Tuberkulosis Sedunia, kami ingin mengulas tuberkulosis di postingan blog kali ini.

Tuberculosis 101

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat berada di paru-paru dalam keadaan tidak aktif, dan menyerang saat fungsi kekebalan tubuh mulai menurun. Karena inilah, Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) seringkali mengidap penyakit ini. Masalahnya, gejala tuberkulosis hampir sama dengan flu biasa (demam, batuk-batuk, turun berat badan, dan kelelahan) sehingga banyak kasus tuberkulosis terlambat ditangani. Tuberkulosis baru bisa diidentifikasi lewat tes sputum (lendir) dan x-ray pada rongga dada.

Tuberculosis Risk Factors

Ingin mengurangi kemungkinan terkena tuberkulosis? Waspadai faktor risikonya:

1. Kamu sangat mungkin terkena tuberkulosis ketika terinfeksi saat daya tahan tubuh menurun. Dan tempat penularan tuberkulosis bisa bervariasi, dari rumah sakit sampai tempat yang penuh sesak (seperti pameran atau di pesawat terbang). Karena itu, jagalah daya tahan tubuhmu tetap prima dengan berolahraga teratur dan pola makan lengkap seimbang.

2. Satu cara yang bisa ditempuh untuk cegah terkena TB adalah tidak merokok. Satu studi menemukan, orang yang merokok dua sampai tiga kali didiagnosis tuberkulosis (clinical tuberculosis). Merokok dapat melemahkan daya tahan paru-paru hingga kuman penyebab TB dapat menyerang dan menginfeksi.

Bagaimana dengan perokok pasif? Sayangnya, risiko perokok pasif untuk terinfeksi bakteri TB (latent tuberculosis) naik hingga dua kalinya. Namun, selama daya tahan tubuh orang tersebut dijaga, orang tersebut tidak akan menderita tuberkulosis.

3. Langkah terakhir untuk mencegah TB menyerang adalah tidak terkena diabetes. Satu studi mengemukakan, penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi terkena tuberkulosis, karena diabetes melemahkan sel-sel imunitas tubuh yang berfungsi mengontrol infeksi tuberkulosis. So, dengan menghindari makan makanan manis terlalu sering dan menjaga pola hidup sehat, kamu bisa mencegah diabetes dan tuberkulosis sekaligus.

Sekali lagi, mencegah lebih baik dari mengobati. Bila kamu merasa menderita batuk yang tak kunjung sembuh, sering berkeringat di malam hari, dan berat badan turun secara drastis, lebih baik periksakan ke dokter. Simak info kesehatan lainnya dari blog nutrisi, ya.

Advertisements

Author: Blog Nutrisi

Kami adalah sekumpulan certified nutritionist, Dan kami ingin membagikan pengetahuan mengenai cara sederhana untuk hidup sehat. Karena kami memimpikan Indonesia yang lebih sehat. Dan kami percaya, berbagi adalah satu dari ribuan cara untuk peduli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s